21 Mei 2011

Saya bukan penuntut atau penuntut

Pernahkah teman - teman dianggap sebagai penuntut?..Yah mungkin karena kita banyak ingin ini itu dan memaksa seseorang untuk membantu merealisasikan keinginan kita. Duile..berat bahasanya. :D

Ceritanya ini terjadi sewaktu zaman saya kecil. Eh. berarti waktu gede?..aaw..lanjutkan baca dulu daripada penasaran. Nanti juga tahu.

"Ma,beliin tas baru ya ma?" (pasang muka memelas)
Balasan mama: " ganti tas kalo udah rusak!" (tegas, lugas, tanpa ada tanda basa - basi)
Bayangkan perasaan saya sewaktu itu. Saya paling enggak bisa ngomong kalo mama udah tegas. jangankan protes, karena akan sia - sia/percuma. (ups..boros kata)

Lanjut cerita..setiap saya pengen punya tas baru, sudah bosen, dan di tambah lagi ada tas yang lagi trend pada kala itu, maka satu - satunya cara yang akan saya lakukan adalah menengok keadaan tas saya. Sudah tahukah selanjutnya apa yang akan saya lakukan?... :) Ya, saya mencari - cari kondisi tas yang memungkinkan untuk dijadikan alasan bahwa ini tas beneran sudah rusak dan perlu di ganti. Tapi sialnya setiap saya berkeinginan ko yah dilalanya ( kebetulan) enggak pernah rusak. So, saya selalu menanti dan menanti ini tas rusak. Lamaaaaaaaaaaa banget biasanya. Apalagi saya bukan ahlinya merusak tas. buktinya tas saya selalu awet selalu.

Anak kecil yang kepengenan dan enggak kesampean yah ujungnya nangis. Walau enggak berani terang - terangan, yang pasti sedih :(. Namanya juga diova bukan penuntut atu penuntut?hehehe... Mungkin karena saya tidak berani, maka harapannya tas saya segera rusak agar bisa cepat minta ganti. Maklum saja, sewaktu kecil, saya sekolah di swasta. Teman saya banyak yang berasal dari ekonomi berkecukupan termasuk menengah ke atas. Walau sebenernya si enggak semuanya juga. Tapi memori dan anggapan saya begitu. Intinya teman - teman saya selalu bisa apa saja yang mereka mau.

Satu lagi, keluarga saya biasa saja. Sebenernya ya mampu untuk menuruti segala keinginan saya. Mungkin itulah pola yang di bentuk mama saya, supaya saya bisa mengarungi kehidupan. Suit..suit. Mama saya adalah orang yang selalu menularkan kesederhanaan. Walau dengan cara mengajarkan saya hidup prihatin. Bukan enggak mampu beli tas baru semaunya tapi membiasakan diri supaya bisa belajar menimang apa yang di perlukan diri ini. Duh jadi agak sedih ni mengenangnya. Huuh ciwek.Payah dah sensitifnya kumat.

***

Cerita sewaktu udah gede (enggak perlu di sebut umurnya dan cerita detailnya ya hehe pokoknya ya pokoknya hehe). Lha ko saya pernah mengalami pengalaman menuntut. Sedih banget pas sadar kenapa saya jadi begitu?.. untungnya enggak berlangsung lama. Saya ingin berubah dan yakin bisa berubah. Kalo dulu bisa kenapa sekarang enggak?...katanya kebiasaan yang telah di pola itu akan memudahkan kita. Bahkan tanpa sadar semua itu sudah terbentuk menjadi kebiasaan. Jadi Diova bukan penuntut atau penuntut??...

-dilafi-