17 Jan 2010

Kejutan Fitness

Sudah satu minggu,aku dan sahabatku rieke ikut fitness.Kami niat fitness sejak dari akhir tahun 2009.Targetnya:"2010 turunkan lemak yang ada dibadan." Diawal tahun aku pun mulai menghubungi Rieke kembali.Aku bertanya tentang rencana fitness tersebut.Aku pun bertanya soal tempat."Khe,jadi enggak fitness?"...Rieke berharap aku punya relasi org fitness,supaya dapat diskon.Tapi sayang,penawaran iklan yang kutawarkan belum deal.Dan aku pun memilih,tanpa diskon pun oke.

Cerita punya cerita..fitness berjalan sebentar saja. Karena sejak awal emang enggak niat lama. Pertama melihat budget pengeluarannya, kedua emang si dia agaknya kurang sepakat. Tapi sayang seribu sayang dia tidak pernah berkata terus terang. Dan dia tidak tau kalo saya berniat berhenti. Betapa saya ingin buat kejutan untuk menyenangkannya. Namun kejutannya belum tersampaikan.Kita membuat keputusan :(.

12 Jan 2010

SEFA SEPUPUKU

note:dokumen lama,daripada ng dimuat dmedia cetak...masuk blog aja deh."Narsis bo"

Di rumah yang beratap asbes ini aku tinggal,disini aku tinggal tak sendiri.Aku tinggal dengan nenekku, Aku sering dibilang sebagai gadis kecil yang cantik. Sayang, biar dibilang begitu, aku merasa tetap biasa-biasa saja.Sebenarnya aku malas dapat sanjungan seperti itu. Kata hatiku, takut jadi besar kepala.

Selama liburan sekolah ini,satu rumah denganku, ada sepupu yang sedang liburan dirumah nenek.Usianya tak terpaut jauh denganku. Walau sebenarnya ia lebih tua satu tahun dariku.Ia sama sekali tak mau membantu nenekku, walau sekedar mencuci piring. Setiap hari sepupuku itu hanya nonton tivi. Setiap hari, ia bersantai-santai saja. Aku sebal sebenarnya.Namun aku memilih membiarkannya saja. Selain malas, sepupuku amat manja. Kemauannya,selalu saja ingin dituruti. Tentu saja keadaan ini membuat nenekku sangat kesal. ”Itu namanya enggak bisa ngambil hati, celetuk nenekku jika sudah kesal dengan polah tingkah laku sepupuku itu”

Suatu hari Ibunya datang untuk menjenguk nenekku.Tiba dirumah nenekku, Ibunya memujiku.Ujarnya,” Kamu rajin, ya Ra”. Dan seketika itu juga anaknya mendengar pujian ibunya untukku. Anaknya pun meminta supaya ibunya tidak usah menyanjung-nyanjungku lagi.Karna menurutnya, aku tidak serajin yang ibunya kira.Ujarnya juga, aku tidak serajinnya.”Bude kupanggil, Ibu dari sepupuku itu.” Sedangkan nama sepupuku adalah Sefa. Budeku hanya diam saja mendengar protesan Sefa. Mungkin Budeku lebih tahu tabiat asli anaknya, jadinya hanya membiarkan ucapan anaknya bagai angin berlalu.


Walaupun mereka ibu dan anak, mereka kelihatan berbeda. Budeku tampak terlihat lembut, dan baik hati.Jika bicara pun tak ketus seperti sepupuku Sefa.Budeku orangnya sangat rajin.Pagi-Pagi sudah bangun.Setelah menunaikan shalat subuh, biasanya ia sibuk didapur ikut menyiapkan sarapan.Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan Budeku.Menurutku Sefa memang sangat berbeda dengan ibunya.

Lima hari sudah, tak terasa budeku tinggal bersamaku, menemani nenekku yang sebenarnya sedang sakit.Sudah lama nenekku sakit-sakitan.Namun seperti biasa, nenekku selalu menganggap dirinya sehat-sehat saja.Bahkan tiap pagi nenek senang keliling komplek rumah, hanya sekedar untuk menyapa para tetangga yang berlalu lalang sibuk dengan aktivitasnya.Di perjalanan, biasanya para tetangga menyapa balik ke nenekku. Nenekku memang orangnya ramah.Aku kagum dibuatnya.Ia senang berbagi keceriaan bersama tetangga, walau sekedar sebuah senyuman.

Semakin hari kondisi nenekku membaik.Budeku pun berniat pulang kerumahnya. “Pakde kasian ditinggal sendirian ujarnya,padaku.” Sefa pun memutuskan untuk ikut pulang bersama ibunya, walaupun liburan masih ada beberapa hari lagi. Aku pun berdoa, semoga sekembalinya Sefa kerumahnya, ia dapat berubah. “Ya, Allah, buatlah Sefa menjadi anak yang lembut, juga mau membantu orangtua, ucapku dalam hati,”

Pagi ini Budeku benar-benar berpamitan pada nenekku.Begitu pula yang dilakukan dengan Sefa. Ia meminta maaf kepada nenek, karena selama liburan dirumah nenek, ia tidak pernah mau membantu nenek.Ia mengakui sifatnya yang senang bermalas-malasan.Nenek pun memaafkan Sefa.Tak lama kemudian Sefa berpamitan denganku.”Maafin aku ya Ra, kalo aku suka ketus kalo bicara denganmu,” “Seharusnya aku enggak boleh seperti itu.” Aku pun terharu dengan sikap Sefa yang dengan spontan jadi berubah seketika.Mau meminta maaf dan bertutur lebih lembut.Semoga ini adalah jawaban dari doaku.Dan Semoga Sefa selamanya akan berubah menjadi lembut dan mau membantu orangtua, amin.