3 Mar 2006

Jangan bergantung pada Pusat

Jum'at, 3 Maret 2006
Polemik

PENGANTAR

Flu burung merebak lagi. Banyak pihak menilai pemerintah (daerah) tidak cukup responsif mengantisipasi penyebaran virus avian influenza (AI).

Diova Laviria Alfirazi
Aktivis UKPM Teknokra Unila


Penyebaran penyakit avian influenza/flu burung memang sangat mengkhawatirkan. Bahkan penelitian terakhir menyebutkan virus tersebut ditemukan di bangkai kucing di Jerman. Berdasarkan hasil survei, ternyata Provinsi Lampung merupakan daerah tertinggi penyebaran AI. Baru baru ini industri peternakan Lampung benar-benar terkena pukulan telak. Tak tanggung-tanggung, Rp3 miliar melayang akibat imbas flu burung. Angka tersebut diperoleh dari kalkulasi total kebutuhan daging ayam masyarakat Lampung 75 ribu ekor atau 100 ton per harinya.

Keputusan yang diusungkan pemerintah dalam memberantas AI yakni dengan jalan memusnahkan massal (depopulasi) ternak unggas dan uang ganti rugi Rp10.000/ekor. Namun kenyataan di lapangan, pemerintah hanya melakukan depopulasi saja, uang kompensasi belum dikucurkan, sehingga makin membuat peternak gigit jari.

Pemerintah seharusnya jangan tergantung pada pusat. Untuk kompensasi ganti rugi peternak, pemerintah harus menganggarkan kompensasi flu burung menjadi prioritas utama. Jika tidak ada dana bisa mengambil dana dari pos APBD yang tidak penting. Sehingga peternak dapat melanjutkan produksi ternak secara normal. Perlu diingat flu burung adalah masalah yang serius, perlu penanganan tuntas.

Selain itu, pemerintah harus memberikan informasi tentang flu burung secara lengkap kepada masyarakat. Sebab, masyarakat adalah ruang publik yang mempunyai hak mendapatkan informasi. Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan harus mempunyai komitmen bersama dan berkoordinasi secara tepat. Gencarkan sosialisasi di media cetak ataupun elektronik. Karena media adalah alat yang menyalurkan informasi terhadap masyarakat ini.

Fungsi pemerintah adalah ujung tombak memberantas AI, jika terus didiamkan akan makin buruk.


Catt:Ini tulisan pasca diedit. Entah siapa nama sangeditor yang terlibat ngedit  ini tulisan sebelum dikirim ke penerbit?? yg pasti benar kemungkinannya, adalah teman2 di pers.mahasiswa