17 Sep 2012

Sekelumit Kisah Dey

Dulu di pelupuk matanya, pernah ada airmata Dulu dipelupuk matanya bengkak tak dikira Dulu ia rela menangisinya Dulu ia terlena dengan rasa Kalau dibuat sinetron, maka ini lagu yang cocok #KutakSanggupLagi - Rossa

Jadilah sekelumit ketikan dari kisah masa lalu. Dey menuliskan dalam buku hariannya. Ia masih melongo menatap ketikannya yang hanya empat baris itu. Eh..saya bisa nulis lagi. Horeee... Dey senang tak terkira. Ia kembali menatap layar komputer. Lalu berfikir akan melanjutkan tulisannya.

Jakarta kembali padat merayap. Sepulang kerja, Dey rela memakai uang jajannya demi bisa berinternetan ria diwarnet. Ia kembali berselanjar demi inspirasi dan niat melanjutkan tulisannya. Beberapa tahun kemudian, berdasarkan pengalamannya diatas, Dey dekat dengan beberapa anak komplek yang sering curhat. Ternyata permasalahannya mirip dengan kisahnya di masa lalu.

Dey menjadi pusat curhat anak komplek rumahnya. Semua itu tentunya menjadi pengalaman berharga. Lucunya saat ini kita bisa menertawakan kelakuan kita dimasa lalu, kemudian mengatakan pada diri sendiri, saya bodoh ya dahulu hehe.. konyol memang menjelek – menjeleki diri sendiri. Dimana orang lain mungkin justru kebalikan dari kita. Oranglain menyanjung dirinya sendiri sudah tentu. Yah, karna siapa lagi yang akan menyanjung kalau bukan dirinya sendiri hehe... itulah pikiran. Kadang menyesali kelakuan yang telah lalu.

Kalau boleh saya bertanya, “obatnya menyesal itu apa ya?” ... Belajar..Berharap memang benarlah itu si jawaban yang dinanti. Lalu apalagi akalau bukanlah belajar?.. Saya tak tahu. Mungkin kalian akan beritahu saya disini. Silahkan berbagi pengalaman. Ada yang mau menjawab: “ menangis bolehkah?”, mencoba mengajukan pendapat lain.

Tidak ada komentar: