4 Jul 2012

Inspirasi Namanya

Ceritanya saya sudah lama tidak berceloteh, wabilkhusus di blog ini.. Sampai - sampai postingan ini sempet di kosongin dulu. Berawal kangen nulis. trus pinjem gadget saudara. Eh eh ko terkirim.Padahal tulisan belum disiapkan.

Inspirasi spontan alias tanpa pikir panjang.Saya jualan uduk :) Seruuuuuu Dapat undangan makan gratis pun sampai di abaikan hehe. Biarin dikata hanya tiga hari jadi penjual uduk, ini pengalaman yang tak tergantikan oleh apapun haha. 

Alhasil saya punya kenalan tukang getuk dan tukang pancong. Mereka berjualan dekat saya jualan uduk. Saya pun bernego dengan mereka supaya "kalau sarapan belinya dengan saya saja" Dibandingkan dengan penjual getuk, saya lebih sering mengobrol dengan tukang pancong. Hari kedua saya berjualan, ada salah satu pejabat provinsi yang sedang lewat dan banyak memborong dagangan. Ada pedagang buah pisang yang diborong, ada juga tukang bubur yang di borong jualannya juga, bahkan tukang getuk ikut - ikutan mendorong gerobaknya mendekat si pejabat, supaya kecipratan diborong jualannya dan bisa pulang cepat kerumah. 

Hmm.. saya jadi berkhayal, kalau itu pejabat mendekati dagangan saya, apakah saya juga akan membiarkan uduk jualan saya diborong si pejabat? Mendadak bikin saya mikir kayak ujian.. Belum ketemu jawabannya iya atau enggak, saya coba menganalisis masalahnya pertama,saya berjualannya tidak memakai gerobak. so, saya tak dapat dengan mudah mendorong dagangan. 

Si tukang pancong pun berbagi pengalaman, kalau ia sudah kapok diborong pejabat. Sebab menurutnya, untungnya enggak seberapa dibandingkan kalau normalnya ia berjualan. Bedanya butuh kesabaran, dan makan waktu ujar si pedagang pancong pada saya. Kalau mau untung dikit dan pulang cepat, yah emang diborong. Jadi, masalah kedua, si pejabatnya mematok harga borongan. Karena si pejabat membudget. Kisarannya beda - beda. Tergantung apa jualannya. Tapi tetep dibawah empat ratus ribu, bahkan bisa dibawah tigaratusribu. So, Harus itung modal dulu kalo begitu.