*IniCeritaAnak*
Oleh: Diova L.A
saya lupa ini cerita pernah saya send ke slah satu media atau belum..tapi agaknya sih belum sempat karena ceritanya begitu singkat :)
***
Namanya Mbo’Na. Nama Panjangnya Nariem.Ia perempuan paruh baya yang telah lama ikut dirumahku.Kulit tangannya mulai keriput.Menandakan ia mulai tua. Mbo’Na baru saja dating dari pasar.Ia membwa barang belanjaan.Kedua tangannya penuh dengan bawaan.Aku yakin ia keberatan membawa barang belanjaan itu.
Sudah beberapa hari ini aku merepotkan mbok Na. Setelah dokter mengatakan,aku terkena asam lambung,Mbok Na sibuk melayani kemauanku.aku pun semakin yakin,banhwa Mbok Na amat setia dengan keluargaku.Subhanallah!
Mbok Na begitu sabar meladeniku.Seorang anak usia duabelas tahun yang sangat manja. Hari pertama kusakit,mulutku terasa begitu pahit.Sedangkan perutku lapar. Aku bingung mau makan pakai apa. Aku menyuruh Mbok Na untuk membuatkanku sayur bening bayam. Dan Mbok Na pun mengerjakannya.
Sayur bening bayam pesananku, telah masak. Tapi tak sedikit pun kusentuh sayur pesananku itu. Padahal,aku ingin sekali mencicipinya. Tapi saying seribu saying,mual yang klurasakan mengalahkan rasa laparku.Aku pun tak menelan apa- apa.Tapi kupaksakan untuk meminum air putih, sebab perutku kosong belum berisi makanan sedikit pun sedari pagi.
Hari berikutnya aku minta dibelikan Mbok Na jajanan kampung,bubur sum-sum pakai candil yang pedagngnya suka keliling.setelah dibelikan,aku tk sanggup menghabiskannya.Hanya lima suapan saja yang bisa kucerna dilmbungku.Untungnya dari awal beli,satu mangkuk bubur sum-sum berharg dua ribu itu, sudah kuparuh menjadi dua mangkuk. Jadi , satu mangkuk tidak kusentuh dan satu mangkuknya lagi, hanya kusendok lima suapan.Satu mangkok yang tidak tersentuhku,kuberikan ke Mbok Na.”Habiskan saja Mbok,ujarku padanya.” Sambil menarik nafas,aku pun berkata dalam hati, “selalu kusisakan”.
Keesokan harinya, aku ingin sekali memakan mie instant.Tapi Mbok Na melarangku. Aku tak diberi izin untuk makan mie instant. Katanya,”Nanti perutku panas,karena badanku saja masih lemas.Satu harian penuh aku hanya makan nasi dengan kerupuk udang. Namun aku tak makan banyak, karena rasanya mual dan ingin muntah.”Ya Allah, kapan rasa sakitku berakhir??...,”tanyaku dalam hati.
Tak terasa,sudah empat hari aku terbaring dirumah.Pelajaran sekolahku kutinggalkn untuk sementara.Aku minta izin tidak mengikuti pelajaran, dikarenakan sakit. Jam telah menunjukkan jam makan siang,telpon rumahku berdering. Mbok Na mengangkatnya. Ternyata pihak sekolah menanyai kabarku.Teman-teman sekolahku beserta wali kelasku ingin menjengukku, begitu kata Mbok Na menyampaikan pesan dari telpon untukku.
0 komentar:
Poskan Komentar